Tag Archives: Teknologi

LPS Punya Cara Cegah Lebih Banyak BPR Bangkrut

Wmm, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) DKI Jakarta melihat tren kebangkrutan Bank Perekonomian Umum (BPR) masih berlanjut. Diperkirakan 6-7 BPR akan bangkrut tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Uddhi Sadeva mengatakan tren tersebut sudah terjadi selama 18 tahun terakhir. Ia pun menyusun beberapa strategi untuk memperkuat sektor BPR agar berdaya saing di masa depan.

Langkah pertama adalah penguatan aspek teknologi. Tahun ini LPS meluncurkan kajian terkait sistem teknologi informasi (TI) yang digunakan pada BPR. “Kami tidak bisa membantu terlalu banyak, tapi ke depan kami akan mencoba mengembangkan sistem IT yang bisa digunakan BPR, mereka akan bersaing lebih baik dan meningkatkan kemampuan manajemennya. Tahun ini kami akan memulai kajiannya,” kata Purbaya dalam siaran persnya. melepaskan. konferensi di kantor LPS. Jakarta, Selasa (30 Januari 2024). rencana tahun 2025

Kemudian, pada tahun 2025, partai akan mulai membeli peralatan untuk menerapkan teknologi tersebut. Tahap awal akan diuji dengan 100 BPR dan kemudian dikembangkan di Indonesia dengan 1400 BPR.

Nantinya, menurut dia, sistem yang dikembangkan akan terintegrasi dengan sistem perbankan yang beroperasi di BPR. Ia berharap langkah tersebut dapat memperkuat BPR untuk bersaing dengan pertumbuhan digital perbankan nasional.

“Tahun depan kita beli hardwarenya dan uji softwarenya di 100 BPR, apakah bisa kita kembangkan di atas 1.400 BPR? Ini mencakup sistem IT, termasuk core banking system, dan kita berharap nanti bisa bersaing dengan dunia digital. , ” jelasnya.

“Yang penting mereka bisa lebih beradaptasi dengan perkembangan teknologi saat ini, jadi menurut kami bank-bank kecil tidak boleh ditinggalkan, jadi kita dukung semaksimal mungkin,” pungkas Purbaya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Uddhi Sadeva membenarkan proses kebangkrutan Bank Ekonomi Rakyat (BPR) berjalan baik. Setelah itu, tahun ini diperkirakan ada 6-7 BPR lagi yang akan bangkrut.

Purbaya mengaku mendapat informasi adanya kebangkrutan beberapa BPR. Meski belum ada angka pastinya, terdapat 6-7 kasus kebangkrutan BPR di Purbaya setiap tahunnya selama 18 tahun terakhir.

“Tahun ini ada yang mengantarkan ke kami, kami belum tahu jumlahnya, tapi kami harapkan ada yang dikirimkan ke kami,” kata Purbaya saat jumpa pers di kantor LPS, Jakarta, Selasa (30/1/2024). ). ).

Dia mengatakan LPS bekerja sama dengan Badan Jasa Keuangan (OJK) untuk menangani proses kebangkrutan BPR. Keduanya memastikan prosesnya berjalan lancar sehingga tidak menimbulkan keributan di masyarakat. Memastikan proses hukum

Menurutnya, penting untuk menjaga kondisi keuangan Indonesia tetap baik. Ia khawatir kebingungan tersebut akan menimbulkan kepanikan dan banyak nasabah yang menarik uangnya dari bank.

“Kami berkoordinasi sangat erat dengan OJK agar prosesnya berjalan baik dan tidak menimbulkan kekacauan bagi masyarakat. Yang penting kita tidak terkesan ricuh, masyarakat panik dan menarik uangnya dari rekening. banknya,” ujarnya.

“Kita kondisi finansial dan ekonomi bagus. Wajar kalau bank sewaktu-waktu bangkrut, tadi saya bilang, 6-7, tahun ini mungkin akan turun ke rata-rata, kalau dilihat-lihat, kita perkirakan, jadi kami akan bekerja sama dengan OJK dalam masalah ini, kerja sama yang erat,” lanjut Purbaya.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Uddhi Sadeva mengatakan tahun ini akan ada 6-7 Bank Ekonomi Nasional (PEB). Ia pun membeberkan alasan dibalik kebangkrutan BPR.

Menurut dia, rata-rata 6-7 BPR atau BPRS bangkrut setiap tahunnya selama 18 tahun terakhir. Salah satunya karena kesalahan manajemen yang dilakukan pihak bank.

“BPR terjadi setiap tahun, kalau kita lihat 18 tahun terakhir, rata-rata setiap tahunnya ada 6-7 BPR, sebagian besar bukan karena kondisi perekonomian, tapi terutama karena manajemen yang buruk,” kata Purbaya dalam jumpa pers di kantor LPS. . , Jakarta. , Selasa (30/01/2024).

Dia menjelaskan, beberapa di antaranya benar-benar tidak terkendali. Namun terungkap alasan spesifik bank skala kecil dibandingkan bank konvensional.