Sosok Bocah 11 Tahun dari Trenggalek Sudah Terbitkan 40 Buku dalam Bahasa Inggris

Sugeng rawuh Wmm di Website Kami!

Wmm, Jakarta – Seorang bocah lelaki menjadi viral di media sosial karena kecerdasannya. Di usianya yang masih sangat muda, bocah asal Trenggalek, Jawa Timur ini, membuktikan bahwa siapa pun bisa melakukan apa saja. Sosok Bocah 11 Tahun dari Trenggalek Sudah Terbitkan 40 Buku dalam Bahasa Inggris

Anak yang dikenal dengan nama Muhammad DeLiang Al Farabi atau DeLiang ini sering disebut sebagai anak ajaib. Kata tersebut tak lepas dari video yang viral baru-baru ini yang memperlihatkan seorang bocah gantung diri sedang bermain laptop.

Dalam video reload yang dibagikan akun Instagram @mood.jakarta, bocah berusia 11 tahun itu tampak berbincang serius dengan pasangannya melalui laptop. Ternyata DeLiang sedang memberikan seminar membaca melalui konferensi Zoom untuk salah satu sekolah dasar dan menengah di Polandia setelah kembali bersekolah dari Inggris dua tahun lalu.

Video tersebut juga memperlihatkan DeLiang juga berkesempatan berbagi pengalamannya menulis banyak buku di usia muda. Dari berbagai sumber diketahui bahwa DeLiang rupanya mempunyai hobi membaca. Dalam setahun ia bisa membaca ratusan buku.

Kegemarannya membaca menjadikan DeLiang seorang penulis berbakat. Ia berhasil menerbitkan 40 buku karyanya sendiri. Salah satu bukunya diterbitkan oleh penerbit London.

Dalam video tersebut, DeLiang juga memperlihatkan betapa fasihnya ia berbahasa Inggris karena ia bersekolah dari SD hingga SMA di Inggris. Ia juga sering hadir di konferensi nasional dan internasional. Pesertanya pun beragam, mulai dari anak-anak SD hingga dewasa. Mempromosikan Rasa Indonesia dalam Industri Vape Dunia

Ia membagikan ilmunya menulis banyak buku di usia muda. Meski DeLiang tidak pernah mengambil kelas khusus menulis. Ini semua berkat bakat dan antusiasme DeLiang.

Dilansir merdeka.com, DeLiang lahir di Taipei, Taiwan pada 18 Juni 2012. Putra sulung Ario Muhammad dan Ratih Nur Esti Anggraini ini lahir saat ibunya sedang menempuh pendidikan sarjana di Taiwan.

DeLiang adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Ayah dan ibunya tidak ada di sana. Pasangan ini memperoleh gelar MSc dan PhD bersama-sama. Kini, selain DeLiang, adik laki-lakinya adalah seorang penulis anak-anak.

Orang tua DeLiang memberikan pendidikan literasi kepada ketiga anaknya sedini mungkin. Pasangan asal Trenggalek ini sudah membaca buku sejak ketiga anaknya masih bayi. Bahkan mereka kerap mengajak anaknya ngobrol.

Menurut Ario Muhammad, pendidikan literasi memberikan dampak positif bagi anak, artinya anak mempunyai pemikiran yang hebat, cepat belajar, dan mampu berpikir secara mendalam. Postingan mengenai status dan prestasi DeLiang itu pun langsung menuai banyak decak kagum dari netizen. Tak sedikit yang terkejut dengan kemampuan DeLiang.

“Pak, saya ibu satu anak, sekarang saya berkesempatan kuliah lagi setelah 10 tahun selesai sekolah, saya ingin menjadi guru,” ujar salah satu warganet.

“Bagus nih, umurku 11 tahun, masih curi tebu di kebun, bener solihin,” sahut netizen lainnya.

“Orang tua mampu mendidik anak-anaknya,” tulis yang lain.

“Dia tinggal di luar negeri saat masih bayi karena saya mengikuti akun IG ayahnya. Dia sangat inspiratif dan Deliang sangat pintar,” tulis salah satu warganet.

“Walaupun sekarang banyak anak-anak yang bermain game, lihat YouTube, TikTok,…

Tak hanya pintar, seseorang juga harus pintar dalam menggunakan media sosial di era digital saat ini. Selain itu, kemajuan teknologi membuat banyak orang menjadi mubazir sehingga karya buku semakin banyak yang terlupakan. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk ‘Anak Indonesia Cerdas Membaca dan Memanfaatkan Media Sosial’ yang berlangsung pada Kamis, 3 Agustus 2023.

Kepala Pusat Pelayanan Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Agus Sutoyo dalam sambutannya mengatakan, ketersediaan buku sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi bangsa. Anak-anak mulai melupakan nikmatnya membaca karena asyik dengan gawainya.

Bahkan, Perpustakaan Nasional RI sudah memulai kampanye membaca. Apa peran orang tua dalam menyikapi pesatnya perkembangan teknologi? Pada tahun 2003 dimulai oleh perwakilan negara saat itu, Tantowi Yahya. Memiliki tagline “Ibuku Adalah Perpustakaan Pertamaku”. Artinya orang tua memegang peranan penting di rumah, bersosialisasi sebelum keluar rumah.

Penelitian menunjukkan bahwa anak usia 0-5 tahun dikendalikan tumbuh kembangnya melalui membaca buku, jelas Agus seperti dilansir saluran Regional Wmm, 3 Agustus 2023. Sosok Bocah 11 Tahun dari Trenggalek Sudah Terbitkan 40 Buku dalam Bahasa Inggris

Saat ini, lanjutnya, kampanye literasi masih terus berjalan. Dengan mengubah perwakilan sensus negara. Misinya tetap sama, yaitu mengajak masyarakat dekat dengan buku. Tapi kali ini, campurlah.

“Kita sudah ada. Di gedung baru Perpusnas 24 lantai itu sudah memanfaatkan teknologi. Bagaimana kita bisa memberikan kontribusi yang besar kepada masyarakat. Tanggung jawab itu kita tanggung,” tuturnya.

“Kami ingin anak-anak senang saat bermain di perpustakaan. Inilah peran pustakawan Perpusnas untuk membantu mereka bermain sambil membaca. Karena dunia anak tidak bisa dipisahkan dari permainan,” lanjutnya.

Agus mengatakan Layanan Khusus Anak menjadi lebih menarik. Ada mainan dan sebagainya. Kegembiraan yang pertama kali ditemukan melalui perangkat elektronik dapat ditransfer ke perpustakaan.

Artinya, kita buat aplikasi I-Pusnas. Jadi kalau masyarakat mau baca buku tidak perlu datang ke Perpustakaan Nasional. Buka aplikasinya di ponsel. phone “Di sekolah terdapat aplikasi Pusnas Edu yang memudahkan wali perpustakaan sekolah dalam mencari buku pelajaran,” kata Agus.

Agar anak mau membaca, peran orang tua sangatlah penting. Misalnya mematikan televisi pada pukul 18.00-19.00 WIB untuk menyisakan waktu membaca.