Bisnis Satelit di Indonesia Kurang Dilirik, Pakar Bicara Begini

Sugeng rawuh Wmm di Website Kami!

Wmm, JAKARTA SELATAN – Doni Ismanto, pendiri IndoTelko Group, menilai permasalahan bisnis satelit di Indonesia jarang dibicarakan dan diabaikan. Bisnis Satelit di Indonesia Kurang Dilirik, Pakar Bicara Begini

Hal ini sangat disayangkan. Sebab satelit merupakan tulang punggung komunikasi dan wujud kedaulatan di luar angkasa.

BACA JUGA: Satellia Satellia diluncurkan, riset Indonesia memastikan layanan sesuai tujuan

Indonesia saat ini memiliki dua satelit: Geostationary Orbit (GEO) dan Low Earth Orbit (LEO).

GEO Satellite memberikan posisi stabil dengan saluran satelit yang besar. dan cocok untuk bekerja di wilayah Indonesia

Baca Juga: Satelit Satria-1 Sukses Diluncurkan Mahfud MD: Tak Terkait Kasus BTS 4G Meta Umumkan Fitur Baru untuk Grup Facebook

Sedangkan satelit LEO memiliki latensi rendah dan kecepatan tinggi. Namun kapasitas salurannya terbatas.

Satelit ini telah mendapatkan popularitas selama 4-5 tahun terakhir, memenuhi permintaan broadband yang sangat besar.

Baca Juga: Korea Utara Meluncurkan Pesawat Luar Angkasa Dikritik Adik Kim Jong Un mengungkap kemunafikan AS

Namun, usia satelit tersebut baru 5 tahun sehingga diperlukan satelit tambahan untuk menjangkau lebih banyak wilayah.

Selain pembebasan, Doni Ismanto menyebut ada permasalahan lain. Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) profesional di industri dirgantara.

Apalagi, industri atau startup lokal belum banyak memanfaatkan perkembangan bisnis satelit.

Doni Ismanto pada konferensi Melihat ke Masa Depan IndoTelko Doni Ismanto mengatakan, “Itulah mengapa kita perlu mulai mengatasi tantangan talenta berkualitas. tantangan teknis dan meningkatkan kerja sama antar pelaku industri. untuk menjadikan Indonesia pemain kuat dalam bisnis luar angkasa global,” GEO Satellite Business di Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini

Sementara itu, M Ridwan Effendy, dosen Kelompok Pakar Telekomunikasi ITB, menekankan pentingnya bisnis luar angkasa. khususnya dalam menjaga kedaulatan negara.

Namun sebelum itu, para pakar penyiaran menjelaskan bahwa ada banyak isu yang perlu dipertimbangkan dalam menjaga kedaulatan satelit.

“Kami bisa mengendalikan bisnis satelit. kontrol keamanan mengendalikan ancaman serangan dan lain sebagainya,” kata Ridwan Effendi.

Ridwan menjelaskan, Indonesia saat ini telah memiliki sejumlah satelit nasional yang mengorbit, seperti BRIsat yang akan mengorbit hingga tahun 2031, satelit Nusantara Satu hingga tahun 2034, Telkom 3S hingga tahun 2032, dan satelit Merah Putih hingga tahun 2033.

Total kapasitas satelit Tanah Air adalah 8653 MHz dengan kapasitas 17Gbps.

Ada pula HTS Bakti Ka Band di orbit 146 BT, dan HTS Telkomsel dijadwalkan menggantikan Orbit 113.

Namun pada kenyataannya Kapasitas satelit yang tersedia selalu habis sebelum melakukan transmisi. Bisnis Satelit di Indonesia Kurang Dilirik, Pakar Bicara Begini

“Faktanya, kapasitas selalu habis sebelum pesawat luar angkasa diluncurkan. Tempatnya penuh,” kata Ridwan.

Oleh karena itu, diyakini perlu adanya kerja sama pembangunan satelit asing dengan dasar bahwa kendali NMS dan Gateway harus berada di Indonesia.

Hal ini juga memungkinkan perusahaan swasta dan publik untuk menyediakan layanan komunikasi satelit.

Mengingat kebutuhan akan satelit GEO, pembangunannya dapat dilakukan dengan bantuan Penyedia Layanan Universal (USO) dan APBN.

Ridwan mengatakan, “Hal ini penting bagi pemerintah untuk mengatur infrastruktur internet dan kebijakan internet karena Kominfo dapat melaksanakan kebijakan dengan itikad baik dan penegakan hukum.” (mcr31/JPN)

Baca selengkapnya… Kementerian Pertahanan Amerika mencurigai siapa yang korup?